Komitmen Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani mendapat apresiasi melalui ajang Jawa Pos Radar Bojonegoro Award 2026. Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menerima penghargaan kategori Inspiring Food Security Pioneers atas kiprahnya dalam mengawal sektor pertanian dan menjaga produktivitas pangan daerah.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Direktur Jawa Pos Radar Marsudi Nurwahid, pada Kamis (17/9) di Andrawina Hall, Hotel Aston Bojonegoro.
Anugerah yang diberikan merupakan wujud apresiasi atas berbagai upaya yang dilakukan Pemkab Lamongan dalam memperkuat sektor pertanian, mulai dari penyelamatan ribuan hektare lahan pertanian dari ancaman kekeringan, optimalisasi lahan tanam, penguatan pompanisasi, pembangunan jalan usaha tani, hingga pemanfaatan teknologi modern di bidang pertanian.
Upaya tersebut turut menjaga Kota sebagai produsen padi terbesar di Jawa Timur selama lima tahun berturut-turut. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur melalui program Jalan Mantap dan Alus (Jamula) juga terus berlangsung, tercatat 65 persen infrastruktur Lamongan sudah berada dalam kondisi mantap dan alus.
Bupati yang akrab disapa Pak Yes menyampaikan, capaian sektor pertanian Lamongan tidak terlepas dari kerja keras para petani yang terus menunjukkan produktivitas tinggi.
“Saya beberapa kali diundang panen raya masyarakat Lamongan. Ini menandakan kebahagiaan petani atas hasil panennya. Sektor pertanian memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Lamongan, sekitar 36 persen PDRB kita disumbangkan dari sektor pertanian. Karena itu, kami terus berkomitmen menjadikan Lamongan sebagai lumbung pangan nasional dan Jawa Timur,” tutur Pak Yes.
Orang nomor satu di Kota Soto menambahkan, produksi dan luas panen padi yang mencapai lebih dari satu juta ton menempatkan Lamongan sebagai salah satu daerah dengan produksi gabah terbesar di Jawa Timur. Pada triwulan pertama tahun ini, ketika harga pembelian pemerintah (HPP) gabah berada di kisaran 6.500 per kilogram, harga gabah di Lamongan mampu mencapai sekitar 8.500 per kilogram.
Selain padi, pengembangan komoditas lain, salah satunya ialah sorgum juga mendapat respons positif masyarakat karena memiliki harga jual sekitar 4.500 per kilogram dengan biaya produksi yang relatif murah dan perawatan yang mudah.
“Pemghargaan ini akan kami dedikasikan kepada petani Lamongan. Kinerja petani di Lamongan betul-betul luar biasa. Setelah panen, mereka tidak menunggu lama untuk kembali tanam. Artinya, sarana prasarana irigasi, jalan usaha tani, dukungan air, dan berbagai sarana pertanian lainnya sudah tersedia dan terus kami support. Kami berkomitmen menjaga ketersediaan pangan karena ketahanan pangan sangat penting bagi masyarakat Lamongan,” tegasnya.